Jumat, 30 November 2007

MIMI KRIBO: Puisi Misterius


Seri MIMI KRIBO

Puisi Misterius

Oleh Benny Rhamdani

Mimi datang pagi-pagi ke sekolah. Dia harus mengerjakan lima pe-er matematika yang belum selesai. Semalam dia mengantar ibu ke apotek. Pulang agak larut malam. Jadi Mimi hanya sempat menyelesaikan lima belas dari duapuluh soal yang diberikan Pak Wibi.

Uuh, sebenarnya aku lebih suka disuruh berlari mengelilingi lapangan sekolah daripada mengerjakan pe-er matematika yang banyak, pikir Mimi. Apalagi setiap sau soal yang sulit bias membuat rambutnya makin kribo.

Sampai di kelas ada beberapa teman Mimi yang juga datang pagi-pagi. Mereka gerombolan Aga. Seperti biasa, Aga dan kawan-kawan akan datang pagi setiap ada e-er. Mereka lalu mendatangi Fajar dan mencontek pe-er dari buku Fajar.

“Tumben, anak pintar baru mengerjakan pe-er di kelas,” ledek Aga ketika melihat Mimi mengerjakan pe-er.

Mimi tidak menanggapi.

“Nih, pinjam sama Fajar saja. Gratis,” tambah Aga.

Mimi tak menyahut. Ufh! Akhirnya selesai juga semua pe-er dikerjakan Mimi. Kemudian Mimi menyimpan bukunya di laci meja. Tapi … Mimi menemukan sehelai kertas di laci itu.

Kertas apa ini? Pikir Mimi. Dia membaca kertas itu. Puisi!

Dalam sendiriku

Aku bersedih

Aku termenung

Tiada teman

Tiada sapa

Itukah kamu yang mau menjadi temanku?

Mimi berusaha mengerti arti puisi itu. Sepertinya, penulis puisi itu kesepian dan ingin punya teman.

Mimi menulis beberapa kalimat di bawah puisi itu: Aku bersedia menjadi temanmu. Jangan lagi bersedih. Namaku Mimi.

Mimi meletakkan kembali lembar kertas itu. Dia yakin yang menulis puisi itu adalah murid yang duduk di bangkunya. Tapi murid kelas siang, Ya, di sekolah Mimi memang ada dua waktu masuk yang berbeda. Kelas pagi dan kelas siang. Mimi tidak pernah tahu siapa yang duduk di bangkunya di waktu siang. Soalnya, begitu bel pulang berbunyi, Mimi langsung pulang ke rumah.

Keesokan paginya Mimi kembali menemukan selembar kertas bertuliskan puisi.

Uluranmu adalah senyumku

Sahabat, aku bahagia

Semoga kita kelak bertemu

Dan kita lewati hari-hari ceria

Mimi tersenyum karena ternyata si pengirim puisi itu kini sudah bahagia. Mimi menuliskan kalimat di bawah puisi itu: Namamu siapa?

Mimi meletakkan lembar kertas itu di laci meja. Tapi Mimi tak cukup sabar menunggu esok pagi. Sepulang sekolah, Mimi sengaja tak buru-buru pulang. Dia menunggu saat murid-murid kelas siang masuk. Ketika tanda amsuk kelas siang berbunyi, Mimi mengintip dari jendela kelas.

Bangku yang diduduki Mimi ternyata kosong di kelas siang. Tak ada yang menduduki. Apakah dia tidak masuk hari ini? Pikir Mimi.

Karena tak mau terlalu lama di sekolah, Mimi buru-buru pulang, Mama bisa marah kalau Mimi pulang sangat terlambat.

Esok paginya Mimi menemukan sehelai kertas. Kali ini bukan puisi.

Namaku Rani. Hari ini, sepulang sekolah, temui aku di bawah pohon flamboyan. Aku ingin bertemu denganmu .

Mimi mengerutkan dahinya. Jadi namanya Rani....

Akhirnya Mimi jadi tak sabar. Ia susah konsentrasi belajar di kelas. Apalagi ketika ia ingat sebuah cerita yang pernah dibacanya. Tentang seorang murid yang mendapat surat di laci meja, tapi ketika diselidiki ternyata surat itu dikirim oleh hantu. Konon, hantu itu adalah murid yang terserang penyakit jantung di kelas.

Ah, tapi itu kan, hanya cerita! Mimi menepis pikiran buruk di kepalanya.

Pulang sekolah Mimi menuju halaman belakang sekolah. Di sana tumbuh pohon flamboyan yang besar. Terkadang pohon itu berubah merah karena sedang berbunga.

Angin bertiup kencang ketika Mimi mendekati pohon. Aneh, Mimi tak menemukan seseorang pun di bawah pohon itu. Mungkinkah Rani terlambat datang?

Tapi ... heh apa itu?

Mimi melihat sepucuk surat yang ditindih batu tepat di salah satu akar flamboyan. Buru-buru Mimi membacanya.

Mimi ... aku tidak bisa datang. Sekarang, kamu menengoklah ke belakang ....

Mendadak Mimi merinding. Pelan-pelan ia menoleh. Dan ....

“Hahahahahaha! Kena dia kita kerjain!”

Muka Mimi merah. Di depannya, Aga dan kawan-kawan muncul dari tempat persenmbunyian. Mereka tampak senang telah mengerjain Mimi.

“Awas ya! Kalian akan kupukul satu per satu!” Mimi berlari menghampiri Aga dan kawan-kawannya.

Tentu saja niat Mimi tak berhasil. Aga dan kawan-kawannya sudah keburu lari kencang ... dan yang membuat Mimi bertambah marah ... mereka terus menertawakannya.

Nah, kalian ingin tahu balas dendam yang akan dilakukan Mimi? Kalian juga ingin tahu apakah Mimi berhasil membalas dendamnya kepada Aga dan kawan-kawan? Ikuti terus sepak terjang Mimi Kribo berikutnya ya!

@

Tidak ada komentar: